Muhammad adalah Nabi terakhir

April 23, 2008

Muhammad adalah Nabi terakhir

Oleh : Armansyah

Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” & “Jejak Nabi Palsu

Didalam ajaran Islam, gagasan mengenai tertutupnya generasi kenabian setelah kedatangan Nabi Muhammad sudah merupakan ketentuan yang disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. Sebagaimana masalah ini tercantum didalam kitab suci al-Qur’an sendiri surah Al-Ahzaab [33] ayat 40, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi (khaatama (al)nnabiyyiina)”. Istilah “Khaatama” memiliki pengertian yang berkorelasi pada tanda akhir atau bagian penghabisan dari suatu pernyataan maupun ikatan tertentu. Dalam hal ini berkaitan dengan berakhirnya periode turunnya wahyu Tuhan kepada manusia, khususnya lagi yang berbentuk syariat keagamaan guna menjadi pedoman dalam hidup dan kehidupan. Dengan kata lain, tidak akan ada orang lain lagi yang berhak menyebut dirinya sebagai Nabi setelah usainya era kenabian Muhammad Saw. Konsepsi yang dibangun oleh kitab suci al-Qur’an tersebut selaras dengan gagasan “topology prophecy” yang banyak disinggung dibeberapa ayat lain.

Gagasan ini menyebutkan bahwa agama-agama yang terdahulu (dalam hal ini termasuk kitab suci dan para nabinya) merupakan insan-insan pilihan yang salah satu tugasnya untuk menyiapkan kehadiran “seorang manusia penggenap” dimasa depan yang akan datang sebagai bentuk penyempurna ajaran yang pernah ada sebelumnya. Ide ini mengantarkan pada pengertian bahwa pribadi-pribadi yang diutus Tuhan pada masa lalu itu bersifat lokal atau kedaerahan yang kelak akan dirangkum dan dikokohkan menjadi satu ajaran yang universal sehingga mampu diterima oleh seluruh manusia melewati batasan geografis atau kontinen dipermukaan bumi. Firman Allah : “Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman :”Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman:”Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. (QS. Ali Imran [3] :81)

Inilah yang lalu ada pada diri Nabi Muhammad Saw, beliaulah orang yang dinubuatkan dan dijanjikan kedatangannya sebagai seorang syahidah dan mushaddiq dari para Nabi terdahulu. Topology kenabian ini sendiri bisa dilihat disejumlah ayat yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an. Dua diantaranya adalah, “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui“.(QS. Al-Baqarah [2] :146) dan “Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raaf [7] : 157). Melalui lisan Muhammad, Allah kemudian mewartakan tentang eksistensi misinya kepada seluruh manusia. “Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi.” (QS. Al-A’raaf [7] :158).

Beranjak dari sini, maka bagaimana mungkin kita bisa menerima pernyataan yang disampaikan oleh siapapun sesudahnya bahwa dia diberi wahyu oleh Tuhan dan diangkat sebagai Nabi-Nya, menggantikan posisi kenabian Muhammad. Kesempurnaan universalitas Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw sudah tidak lagi memerlukan turunnya Nabi-nabi baru pada masa-masa berikutnya. Bahkan meskipun itu berposisi sebagai Nabi non-syariat yang sifatnya mengembangkan dan membenarkan ajaran Muhammad. Nash-nash suci lainnya memberitakan secara transparan kepada kita bila sebagai gantinya maka Allah akan memilih hamba-hambaNya selaku muballigh dan mujaddid bagi umat manusia. “Jadilah kamu orang-orang rabbani (alim/berilmu) dengan sebab kamu telah mengajarkan al-Kitab, dengan sebab kamu telah mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3] :79). Nabi Muhammad Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah, dikeluarkan pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi. Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani telah menshahihkan hadis ini dalam Shahih Abi Daud, Ash-Shahihah no. 599)

Tugas mujaddid -sebagaimana rabbani– bukan merubah apalagi membatalkan hukum­-hukum dan ketetapan al-Qur’an. Mujaddid adalah intelektual muslim yang akan memberikan penyegaran pemahaman atas sejumlah ayat­ayat al-Qur’an secara aktual dengan mengacu pada peradaban yang ada disetiap zamannya. Jumlah mujaddid yang Allah tampilkan dalam setiap zaman bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang. Tetapi yang jelas, mujaddid ini tidak berfungsi sebagai seorang Nabi ataupun Rasul sebab pintu kenabian telah ditutup dengan berakhirnya pengutusan Nabi Muhammad Saw. Predikat khaatama (al)nnabiyyiina didiri Muhammad bukan satu penghinaan atau pelecehan atas beliau. Sebaliknya justru menempatkan Muhammad dalam kedudukan yang tertinggi sebab beliau telah mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk menjadi Nabi terakhir yang diutus dengan risalah atau aturan hukum menyeluruh kepada segenap manusia yang sebelumnya terpecah dengan masing-masing Nabi atau Rasul tersendiri pada setiap tempat dan periodenya, disesuaikan dengan kondisi dan situasi mereka masing-masing. Jika agama Islam sebelum Muhammad disampaikan oleh Nabi dari masing-masing bangsanya, seperti Musa dan ‘Isa yang hanya diperuntukkan kepada Bani Israel, tetapi Muhammad diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia disegala tempat di penjuru dunia ini dan disepanjang masa. Rahmat Allah tidak akan pernah berhenti turun bagi umat hanya karena pintu kenabian sudah ditutup. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya disurah Fathir [35] ayat 2 : “Apapun rahmat yang Allah limpahkan untuk manusia, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalanginya, dan apa­-apa yang Dia tahan maka tidak ada sesuatupun yang dapat melepaskannya“. Gagasan yang dimunculkan jika salah satu rahmat yang dimaksud pada ayat tersebut salah satunya adalah rahmat kenabian, jelas merupakan gagasan yang tidak cukup valid untuk diterima. Memang wahyu sendiri terus turun pada individu-individu didunia ini, namun datangnya wahyu tersebut bukan lantas bisa menjadi dasar bagi mereka untuk menyandang gelar Nabi.

Istilah wahyu dalam terminologi al-Qur’an melukiskan bentuk komunikasi yang dijalin antara sesama manusia atau antara Tuhan dengan hamba-hambaNya. Kata Awha atau kadang-kadang Awhayna sebagai bentuk dasar dari kata wahy misalnya digunakan ketika al-Qur’an merujuk kisah Nabi Zakariya yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat kepada kaumnya (QS. Maryam [19] :11), contoh lainnya adalah petunjuk yang diberikan Allah kepada kaum Hawariyyun (sahabat-sahabat Nabi ‘Isa) seperti yang ada dalam surah al-Maaidah ayat 111, terus juga petunjuk (Awha) yang diberikan kepada Ibunda Nabi Musa untuk melarungkan keranjang berisi puteranya dilautan (lihat surah Thaaha ayat 38 dan al-Qashash ayat 7) atau kisah pemberian wahyu kepada Maryam (ibunda dari Nabi ‘Isa al-Masih) saat beliau akan hamil secara parthenogenesis (lihat surah Ali Imron ayat 47 dan surah Maryam ayat 19) bahkan al-Qur’an menggunakan term yang sama ketika bercerita tentang pewahyuan Allah terhadap an-Nafs (lihat surah asy-Syams ayat 8). Dari sekelumit contoh yang kita sampaikan ini, adakah orang-orang tersebut (kaum hawariyyun, Maryam, Ibunda Nabi Musa dan an-Nafs) bisa disebut sebagai Nabi-Nabi ? Dan apakah al-Qur’an memang menyebut mereka seperti itu ? Sebagai kesimpulan yang bisa diperoleh secara singkat, pintu kenabian bagi umat manusia memang telah berakhir.

Tidak ada alasan apapun untuk membenarkan adanya kenabian sesudah Muhammad. Baik Nabi dalam kapasitas pembawa syariat maupun Nabi dalam kapasitas non-syariat (Nabi ikutan). Sahabat Nabi, Abdur Rahman bin Jubair berkata: Aku mendengar Abdullah bin ‘Amr ibn-’As meriwayatkan bahwa suatu hari Nabi Saw keluar dari rumahnya dan berkumpul bersama kami. Sikapnya menunjukkan kegelisahan hatinya seolah beliau akan meninggalkan kami. Beliau bersabda, “Aku Muhammad, Nabi Allah yang ummi’ dan kalimatnya tersebut diulang sebanyak tiga kali. Lalu dilanjutkannya: “Tidak akan ada Nabi lagi setelah aku !” (HR. Ahmad). Dilain kesempatan, Nabi Saw bersabda: “Jika saja ada Nabi sesudah aku, tentulah dia adalah Umar Bin Khatab.”(HR. Tirmidzi). Dari Sa’d bin Abi Waqqas r.a. Nabi SAW berkata kepada Ali (dalam perang Tabuk) : “Antara aku dengan engkau laksana hubungan antara Musa dan Harun, tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Bukhari dan Muslim) [] (Penjabaran yang lebih detil lagi, silahkan merujuk pada buku yang penulis tulis dengan judul “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq” terbitan Hikmah-Mizan Publika, 2007. Penulis bisa dihubungi melalui email : armansyah.skom@gmail.com atau 0816.355.539)


Pemesanan Buku masih terbuka

April 5, 2008

Stock kedua buku masih ada

Bagi rekan-rekan yang ingin memperoleh buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah Pelurusan Sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” serta buku “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq” di informasikan bila kedua buku tersebut masih tersedia dan dapat dibeli langsung kepada penulis. Silahkan menghubungi nomor : 0816.355.539 baik sms atau telpon. Harga Buku masing-masing : 1. Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Rp. 67.500,- diluar ongkos kirim 2. Jejak Nabi Palsu : Rp. 44.000,- diluar ongkos kirim Untuk ongkos kirim akan disesuaikan dengan kota tujuan dan akan diberitahukan setelah anda melakukan konfirmasi kepada penulis Kedua buku bisa dipesan juga dengan CD referensi yang digunakan didalamnya dengan tambahan biaya Rp. 5000,- sehingga bila harga buku sebelumya Rp. 67. 500,- maka tambahkan Rp. 5000,- diluar ongkos kirim, begitu pula dengan buku lainnya, Rp. 44.000,- + Rp. 5000,- diluar ongkos kirim. Tanpa cd, pemesanan tetap dilayani.

Pemesanan langsung kembali dibuka

Februari 26, 2008

Buku Rekons & JNP

Bersama ini di informasikan bahwa per-26 Pebruari 2008, pemesanan secara langsung buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan buku “Jejak Nabi Palsu” kembali dibuka.

Untuk yang ingin memesan silahkan sms kenomor 0816.355.539, sebutkan nama dan alamat anda serta jumlah buku yang dipesan dan buku apa saja.


Jawaban yang akan diberikan adalah harga buku dan ongkos kirim serta nomor rekening untuk proses transfer dana.

Kesempatan ini diberikan secara terbatas sesuai dengan jumlah stock yang ada pada penulis.


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH
http://armansyahskom.wordpress.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Nabi Palsu Sayuti akhirnya bertobat

Februari 11, 2008

Ahmad Sayuti “nabi palsu”
Sumber : http://swaramuslim.com/galery/sekte/index.php?page=ahmad_sayuti

Kamis, 07/02/2008 : BANDUNG(SINDO) – Muhammad Sayuti alias Ahmad Sayuti, 77, pria yang mengaku sebagai nabi terakhir dalam dua buku karangannya diperiksa di Mapolsekta Regol,Jalan Moch Toha,kemarin.

Lelaki kelahiran Singaparna,Kab Tasikmalaya, 1931 ini, dijemput polisi dari kediamannya di Jalan H Samsudin, Kel Ciateul,Kec Regol,Kota Bandung, sekitar pukul 13.30 WIB. Sayuti diperiksa di Ruang Unit IV oleh dua penyidik. Dengan mengenakan kemeja krem dan celana cokelat, Sayuti tampak santai menjawab pertanyaan penyidik.

Pertanyaan yang diajukan pun berkisar dua buku karangannya yang dinilai telah menodai agama. Penyidik sempat terlihat bingung karena jawaban yang dikemukakan Sayuti terkesan berbelit-belit.

”Kalau Anda mengaku sebagai nabi, saya ingin tanya, pada tahun 2010, seperti apa kondisi Indonesia? Apakah tetap ada atau terpecah-pecah. Anda kan nabi, pasti tahu,” tanya penyidik kepada Sayuti. Mendengar pertanyaan tersebut,Sayuti mengaku tidak tahu.Penyidik pun kembali bertanya mengenai keyakinan Sayuti yang mengaku sebagai nabi terakhir setelah Rasulullah Muhammad SAW.

Selama 5,5 jam,Sayuti dimintai keterangan. Akhirnya, sekitar pukul 18.00 WIB, pemeriksaan pun selesai. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, dia terlihat lemah hingga harus dibopong oleh dua orang.Kepada wartawan yang menunggunya, Sayuti mengaku,dirinya tidak mempercayai ajaran Alquran.

”Isi yang terkandung dalam Alquran bukanlah firman yang diturunkan Allah, melainkan cerita Nabi Muhammad,” kata Sayuti. Dia menilai,selama ini kesalahan dalam Alquran menjadi penyebab utama terpecah belahnya umat Islam.Dia pun mengaku mampu menyatukan kembali umat Islam yang terpecah tersebut.

”Saya prihatin melihat umat Islam saling gontok-gontokan. Saya ingin menyatukan kembali umat yang terpecah belah itu,” ujar Sayuti yang terlihat membawa buku tebal. Kanit Reskrim Polsekta Regol AKP Aji Santoso mengungkapkan, hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan ke PolwiltabesBandunguntuk menentukan status Sayuti berikutnya.

”Jadi, menjadi tersangka atau tidaknya semua tergantung dari Polwil. Saya hanya baca di koran kalau ada aliran sesat,maka saya tindak lanjuti dengan meminta keterangan dari beliau,” ujar Aji kepada wartawan. Diberitakan SINDO sebelumnya, seorang tukang cukur bernama Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti mengaku sebagai nabi terakhir.

Hal tersebut ditemukan dalam dua buku karangannya berjudul Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil,dan Alquran) dengan Segala Akibatnya, dan buku berjudul Mungkinkah Tuhan Murka.

Menurut Wakil Ketua PW Persis Jabar Rahmat Nadjieb, kedua buku tersebut telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Berdasarkan hasil penelitian, kata Rahmat, Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir.

”Ini jelas sebuah pemutarbalikkan fakta,”kata Rahmat. Lebih lanjut Sayuti mengaku menerima wahyu pada Jumat malam di tahun 1993. Wahyu tersebut diterimanya lewat mimpi. ”Saya bermimpi. Dalam mimpi tersebut saya menerima wahyu. Sampai sekarang pun saya masih sering menerima wahyu,” kata Sayuti saat ditemui wartawan di kediamannya sebelum dijemput polisi pagi kemarin.

Berdasarkan keyakinan atas wahyu yang diterimanya tersebut,Sayuti mengaku hanya cukup menjalankan salat dua kali dalam sehari, yaitu magrib dan subuh.Selain itu, dia juga mengganti bacaan salat, kecuali surat Al Fatihah. Sebelum menerima wahyu, menurut Sayuti, dirinya memang kerap mempelajari Alquran termasuk terjemahannya, baik dalam bahasa Sunda maupun Indonesia.

”Saya sudah pernah berdiskusi dengan ulama dari NU, Muhammadiyah, dan Persis, tapi tidak ada yang bisa menjawab kegelisahan saya. Akhirnya saya memutuskan mempelajari sendiri. Jadi, Alquran yang dibaca sekarang itu bukan firman Allah, melainkan perkataan Nabi Muhammad putra Abdullah. Saya juga belum sempat menyebarkan keyakinan ini,” kata Sayuti.

Sayuti menambahkan, setelah menerima wahyu tersebut, dirinya hanya berdoa dan beribadah menurut keyakinan yang dianutnya. Dia juga mengaku sempat memberikan ceramah di daerah Srimahi, Kota Bandung, tetapi ditentang masyarakat setempat.” Waktu itu, dalam ceramah saya katakan kepada mereka bahwa Alquran yang dibaca itu bukan firman Allah, tapi Muhammad putra Abdullah,” tandas Sayuti.

Sayangnya, Sayuti enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai dua buku yang ditulisnya. Dia hanya mengatakan, buku tersebut diterbitkan dengan biaya sendiri,tanpa merinci berapa biaya yang sudah dikeluarkannya. ”Saya mencetak buku itu dengan biaya sendiri dan tidak disebarluaskan kepada umum,hanya kepada keluarga besar saja,”kata Sayuti.

Sayuti sendiri tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada keluarga, termasuk istrinya,Oja,70.Menurut Oja, suaminya hanya menyebarkan buku tersebut kepada keluarga besar dan tidak untuk umum. Oja menegaskan, dua buku karangan suaminya dicetak di Bandung sebanyak 150 dan 200 eksemplar. Namun, Oja mengaku tidak tahu di mana buku itu dicetak.

”Itu pun tidak disebar untuk umum, tapi hanya lingkungan keluarga besar saja,” kata Oja.Namun,saat ditanya mengenai keyakinan suaminya yang dinilai aneh, Oja tidak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya yang berukuran sekitar 6×12 meter. Bambang,35,menantu Sayuti mengaku tidak bisa memberikan komentar apaapa mengenai dua buku yang dikarang Sayuti, termasuk keyakinan mertuanya tersebut.

Sebab, kata Bambang, persoalan tersebut sudah menyangkut akidah masingmasing. Selain itu,Sayuti juga tidak pernah memaksakan keyakinannya pada orang lain, bahkan kepada anakanaknya sendiri. ”Bapak (Sayuti) tentu punya keyakinan mengenai agamanya, saya juga punya keyakinan. Tapi, dari dulu bapak memang suka diskusi soal agama. Selama ini,omongan bapak kami anggap sebagai nasihat orangtua terhadap anak-anaknya,” kata Bambang.

Di mata tetangganya, Sayuti dikenal sebagai sosok yang baik. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, selama ini Sayuti tidak pernah berbuat ulah, terutama mengenai keyakinannya.

”Selama ini saya tidak tahu kalau ternyata dia mengaku sebagai nabi baru,”katanya. Farhan Kamaludin, tetangga lainnya mengatakan, Sayuti sempat menolak membaca dua kalimat syahadat. Informasi tersebut, kata Farhan, diperolehnya dari adik Sayuti,almarhum Kostaman, pada sekitar 1996-1997. Saat itu,Sayuti diminta membacakan kalimat syahadat oleh seorang tokoh agama di Bandung, Mahyudin Syaf, tetapi dia menolaknya.

”Sayuti menolak membacakan dua kalimat syahadat karena dirinya mengaku sudah didatangi malaikat Jibril dan mengangkat dirinya menjadi nabi terakhir. Beberapa bulan kemudian, Mahyudin Syaf meninggal dunia. Kepada adiknya,Sayuti sempat mengatakan: Tuh kan, garagara menyuruh saya membaca kalimat syahadat, dia meninggal dunia,”kata Farhan.

Dia menambahkan, tetangga juga sudah mengetahui bahwa Sayuti mengaku sebagai nabi.Namun,mereka tidak tahu ternyata Sayuti sudah menerbitkan dua buku yang isinya mengangkat dirinya sebagai nabi. Menurut dia,hubungan keluarga Sayuti dengan tetangga baik-baik saja dan tidak dikucilkan.Namun, tetangga jarang merespons perkataan Sayuti.

”Tahun 1993, Sayuti sebenarnya merupakan salah satu khatib Jumat di Masjid Al Jihad yang berada di lingkungan warga.Namun,setelah dia mengaku-aku sebagai nabi, Sayuti tidak pernah dipakai lagi sebagai khatib. Dalam tiga tahun terakhir ini, saya juga tidak pernah melihat dia memberikan ceramah Jumat di Masjid Al Jihad.Tapi tidak tahu kalau di masjid lain,” kata Farhan.

Wahyu dalam Bahasa Sunda
Dalam buku pertamanya yang berjudul Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil,dan Alquran) dengan Segala Akibatnya, Sayuti mengaku menerima wahyu dalam bahasa Sunda pada 1993. Hal tersebut dia tulis pada halaman sembilan buku setebal 42 halaman tersebut. ”Dan Alquran diturunkan kepada saya tahun 1993,umur saya pada waktu diturunkan Alquran adalah 62 tahun.Dan Alquran ditakdirkan Allah diturunkan kepada saya setelah dimudahkan (diterjemahkan), dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,” tulis Sayuti dalam bukunya.

Kemudian, pada paragraf selanjutnya, Sayuti menuliskan kebingungannya. ”Setelah kitab Taurat dan Injil kemudian Alquran diturunkan dan diwahyukan Allah kepada saya,mula-mula hati dan pikiran saya jadi bimbang tidak karuan dan apalagi namanya saya tidak tahu,”tulisnya.

Dia kemudian memutuskan pergi ke kampung menemui seorang ulama yang cukup terkenal dan akrab.Namun, ulama tersebut malah terheran-heran.

”Kepada siapa saya harus bertanya,karena apa-apa yang telah diturunkan kepada saya bertentangan dengan apa-apa yang saya peroleh dari beberapa ulama, dari beberapa golongan dan bahkan bapak saya sendiri,” tulisnya di halaman 10. Mengenai pengakuan dirinya sebagai nabi,ditulis Sayuti di halaman 11 buku tersebut.

”Jadi jelas bahwa nama Muhammad nabi yang ummi yang namanya tertera di dalam Alquran adalah saya bukan beliau, beliau salah seorang di antara rasul-rasul yang dilebihkan Allah.Menurut beliau, bagi tiap-tiap umat ada seorang rasul, apabila datang rasul kepada mereka, mereka dihukum dengan adil tanpa kekerasan,”tulisnya. (gin gin tigin ginulur/ irvan christianto/sindo)

Akhirnya “Nabi Palsu” Bertobat

Pertobatan Sayuti
Nabi palsu asal Bandung berniat bertobat. Ahmad Sayuti, 77, akan melakukan pertobatan Jumat (8/2). Sayuti selama ini mengaku sebagai nabi dalam dua buku yang ditulisnya. Si nabi palsu ini akan bertobat di kantor PW Persis, Jl. Pungkur gang Muncang No 31 pukul 14:00. “Inisiatif bertobat itu datang dari Pak Sayuti sendiri. Tidak ada paksaan. Kami hanya mediasi saja,” terang Ihsan Setiadi Latief, sekretaris PW Persis, Kamis (7/2).

Keluarga Sayuti sebelumnya menghubungi seorang ustad. Tujuannya, ya itu tadi, akan bertobat. Ada beberapa poin yang akan diikrarkan oleh Ahmad Sayuti. Antara lain akan menyatakan tobat dengan membaca dua kalimat syahadat. Juga akan memusnahkan semua buku yang belum tersebar.

Menurut Ihsan, Sayuti akan meminta maaf kepada semua umat Islam dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dan menyatakan buku tersebut salah dan sesat. Atas kejadian ini, Ihsan juga menghibau kepada umat Islam agar bersikap tenang, hati-hati dan jangan mau dipecah belah.”Kita niat karena Allah untuk menjaga agama Islam,” katanya menutup pembicaraan. (dtc) Ahmad Sayuti (77) yang dalam dua bukunya mengklaim sebagai nabi terakhir, akhirnya bertobat. Ia berikrar kembali dua kalimat syahadat di Masjid Al-Ittihad, Bandung, Jumat (8/2). (sumber foto :detik.com)

buku ‘Nabi’ Ahmad Sayuti Kota Bandung kembali gempar oleh kasus penodaan agama. Setelah nabi palsu Ahmad Mosadeq, kini kota berjuluk Parijs van Java itu dihebohkan oleh beredarnya dua buah buku yang pengarangnya mengaku sebagai nabi terakhir.

Adalah Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti si pengarang dua buku itu. Buku pertama berjudul “Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi rasul allah (taurat, injil, dan Al-Quran) dengan segala akibatnya”. Sementara buku kedua berjudul “Mungkinkah Tuhan Murka”.

Wakil Ketua Persis Jabar Rahmat Nadjieb mengatakan kedua buku tersebut telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran. “Berdasarkan penelitian dan investigasi kami pada kedua buku ini, Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir,” jelasnya saat jumpa pers di Kantor DPW Persis, Jl Pungkur, Selasa (5/2/2008).

Ahmad Sayuti pun, lanjutnya, menganggap kalau Alquran adalah kitab hukum bahasa Arab peninggalan Nabi Muhammad putra Abdullah yang ditulis oleh para sahabatnya atas perintah Muhammad. “Dia mengaku kalau Alquran turun pada tahun 1993 saat dirinya mendapatkan wahyu,” ungkap Rahmat.

Penyimpangan lain yang dikemukakan Sayuti dalam bukunya, lanjut Rahmat, mengganti bacaan salat kecuali surat Al Fatihah. “Dia juga menganggap tafsir Alquran selama ini hanya kebohongan belaka dan kitab hadis Bukhori hanya kitab bohong yang isinya bukan perkataan Nabi Muhammad,” katanya.

Buku ‘Nabi’ Sayuti Terbit Sejak 2005
Dua buku karangan Muhammad Sayuti, salah satunya diterbitkan pada 2005. Bahkan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jabar telah menerima langsung dari tangan Sayuti pada 2006.
Buku berjudul “Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi rasul Allah (Taurat, Injil, dan Alquran) dengan segala akibatnya”, bersampul abu-abu. Sampul buku bergambar setengah bola dunia yang disorot oleh cahaya dari atasnya, seperti cahaya matahari.

Dalam sampul buku tertulis Muhammad Sayuti (Ahmad Sayuti) sebagai penyusunnya. Diterbitkan pada 5 April 2005. Tidak dicantumkan nama penerbit. Tebal bukunya hanya 42 halaman.

Sementara itu, buku kedua berjudul “Mungkinkah Tuhanmu Murka” bersampul hijau dengan gambar yang sama seperti di buku pertama. Di bagian atas judul tertulis “berbagai bencana terus menerus menimpa bangsa Indonesia. Begitu pula ahlak moral sudah hampir merata”.

Kemudian di bagian bawah judul, tertulis “Karena itu mari mawas diri (instropeksi) bersama saya Muhammad (Ahmad Sayuti) sehingga semuanya menjadi jelas”. Tidak dicantumkan kapan buku ini diterbitkan dan penerbitnya. Hanya ada penjelasan dalam sampul muka jika buku ini adalah edisi kedua. Jumlah halaman pada buku kedua ini hanya 24 halaman.

Menurut Sekretaris Eksekutif ICMI Jabar Aep Saepuloh, sebenarnya ICMI telah menerima buku ini pada 2006. “Ahmad Sayuti bersama istrinya yang langsung datang ke saya. Saat itu saya terima saja. Dia bilang, tolong pelajari buku ini,” ujar Aep Kantor DPW Persis, Jl Pungkur, Selasa (5/2/2008).

Sementara itu Wakil Ketua DPW Persis Jabar Rahmat Nadjieb mengaku baru menerima buku itu Januari 2007 dari salah seorang anggotanya yang bekerja di KUA Bojongloa.

“Dalam waktu dekat kami akan segera melacak penerbitnya. Kami perkirakan penyebaran buku ini masih di Bandung,” ujar Rahmat.

Dalam buku kedua, Sayuti mengaku sebagai anggota Orwil ICMI Jabar. Hal ini dibantah keras Aep. Menurutnya tidak ada anggota ICMI Jabar bernama Muhammad Sayuti atau Ahmad Sayuti. “Nama Ahmad memang banyak, tapi tidak ada yang namanya Sayuti,” bantahnya. [dtk]

———————–

InsyaAllah Buku “Jejak Nabi Palsu”, meski nama Sayuti belum ada didalamnya bisa menjawab fenomena-fenomena sejenis.

Buku Jejak Nabi Palsu

http://jejaknabipalsu.wordpress.com


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH

http://armansyahskom.wordpress.com

http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/blog/

Pertanyaan Abouedipoo untuk JNP

Februari 11, 2008

@bouedipoo~ asked me :

Turunnya isa almasih dan imam mahdi…materi pokok kedua buku pa arman…asal usulnya kan adalah hadist tt tanda-tanda hari akhir bukan?!
semua buku yg pernah sy baca tt tanda-tanda hari akhir jg selalu merujuk kepada hadist

apakah tidak ada penjelasan tt tanda-tanda hari akhir dlm alqur’an?!
jadi hadist kah satu2 pegangan untuk itu?!
kenapa tidak ada penjelasan?!
apakah karena tidak akan berguna bagi umat akhir jaman?!
apakah karena umat akhir jaman memang tidak akan kenal al-qur’an lagi?!

hadist?!
adakah pengakuan al-qur’an tentang hadist?
bukankah al-qur’an menyebutkan bahwa ada kitab-kitab Allah pada nabi rasul sebelum Al-qur’an pada Muhammad SAW…tp apa ada al-qur’an menyebutkan mekanisme lain selain kitab?!
kitab yg berisikan wahyu tuhan pun di ubah manusia…sehingga Allah menjamin tt Kebenaran Alqur’an…apakah umat muslimin sebegitu mulianya sehingga berbeda dengan manusia lain sebelumnya dengan tidak memungkinkan terjadi distorsi akan perkataan nabinya?!
keberadaan hadist palsu tentu jelas-jelas memperlihatkan tidak bedanya manusia itu sejak awal penciptaan sehingga malaikat pun mempertanyakan tindakan Allah menjadikan manusia khalifah di muka bumi…
dengan begitu bukan kah tidak bisa dibilang hadist juga terpelihara?!

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr:9)
“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)
namun dalam hal ini al-qur’an tidak boleh diragukan…selain terbatas ilmunya yg membaca ayat itu seperti sy yg bertanya apa itu Adz Dzikr?! bukan kah nama Al-qur’an dan bukan hadist?! bukankah jelas yg dijamin itu adalah ucapan Muhammad dan bukan ucapan sahabat walau kata-katanya percis sama?! sperti halnya yg terjadi pada seseorang yg membeli alat elektronik yg nyata-nyata dicetak pabrik yg sama tp satu ada garansi satu lagi tidak ada garansi…

apa yg terjadi bgtu hadist vs al-qur’an?! hadist harus batal bukan?! kalau hadist nya shahih?! apa gak mungkin bertentangan dgn al-qur’an…kalau yg gak shahih bagaimana?! bukankah lebih baik hadist yg gak shahih jangan di publish dong biar tidak bikin ragu…

sungguh sy banyak tidak tahu akan hal hadist…karena daridulu hampir gak diajari tt hadist kecuali cuma tau ada y shahih dan ngakk…

nah hadist tt isa almasih dan imam mahdi turun di akhir jaman ini shahih atau ngak?!

@bouedipoo~

Jawab :

Status hadis Mahdiah dalam buku kedua saya InsyaAllah sahih dan bisa dianalisa juga dari tulisan saya yang mengaitkan janji Imamah Allah pada Ibrahim dan keturunannya.

Tentang kontroversi hadis sendiri saya sudah menyiapkan tulisan untuk buku berikutnya, “Ahli Bait Menggugat” yang mungkin bisa dianggap trilogi dari kedua buku sebelumnya.

Saya sedang menawarkan pada beberapa pihak untuk proses penerbitannya.

Komentar sahabat mengenai buku RSIA

Februari 11, 2008

Feb 11, 2008 2:52 AM
By : Abouedipoo Himura

Selagi membaca ulang Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih sy nemu bahwa terjemahan alqur’an d CD: web hadist ternyata masih versi depag…untuk Q.S Annisa 157…

selagi membaca ulang RSI rasanya saya ingin menjawab sendiri email sy yg sbelumnya tt hadist vs al-qur’an…
sy simpulkan bahwa hadist yg mengatakan tt nabi isa akan turun d akhir zaman adalah tidak shahih…batal atas nama hukum al-qur’an

oke…next

sy sudah baca websitenya harun yahya: http://www.yesusakankembali.com/s1_5.html

ada perbedaan referensi dgn RSI, di website ada Q.S 4:159

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi atas diri mereka. (Surat an-Nisaa’: 159) di RSI tidak dibahas sepertinya (kalo gak salah hal 134: cuma ayat 157-158 yg dikutip)

however…sy sependapat tt posisi alquran yg turun setelah nabi isa wafat dan di “angkat”…sehingga term of time nya dapat dijadikan dasar kronologis kejadian seperti pada ayat Q.S 3:55

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

sy rasa ayat ini kategori past perfect future tense…ayat yg menjelaskan akan terjadinya suatu peristiwa di masa lampau, yaitu akan menyampaikan kepada akhir ajal (ada tulisan : mutawaffika ) dan mengangkat kamu (ada tulisan : warafi’uka)….
artinya sekarang (saat ayat ini turun) isa almasih sudah wafat dan sudah diangkat

kemudian pada Q.S 4:157-158

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

(157) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(158)

nah ini ayat past tense, saat ayat ini (158) turun nabi isa telah di angkat…arti kata sudah wafat pula karena urutannya wafat dulu baru di angkat sama seperti halnya ayat Q.S 5:116-117

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

sy merasa ayat ini future perfect tense, ayat yg menerangkan masa depan, di akhirat, yaumil hisab: dimana isa ditanya tt trinitas, yang saat ayat ini turun sudah ada trinitas…sedangkan trinitas baru akan di kembangkan dan sebarkan oleh saulus setelah beberapa waktu berita isa masih hidup setelah penyaliban…berarti semasa hidupnya isa tidak tahu trinitas…selain dia akan wafat dan Allah yg akan mengawasi umat nya…

well…rasanya sy semakin yakin…soal wafatnya Isa a.s… semoga saya di jalan yg benar…

tt Q.S 4:159, yg tidak ada di RSI…rasanya lumrah-lumrah saja di hari kiamat ada Isa…bukankah saat sangkakala di tiup, mayat keluar dari kuburnya…Isa almasih keluar dari kuburnya dengan tubuh utuh selayaknya jasad nabi yg terpelihara sehingga orang yg dulu pernah melihatnya akan langsung mengenalinya…bukan berarti ada setelah turun dari langit malah ada setelah naik dari perut bumi..

namun sekarang ada pertanyaan baru selagi bacabaca Q.S ali imran tadi:

ayat ini apakah mengikat ?
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

sekarang sy merasa punya sedikit ilmu, yang wajib disampaikan walau 1 ayat…namun seberapa wajib untuk menyampaikan pemahaman tt isa kepada saudara-saudara dan teman-teman saya, terhadap orang-orang seperti sy dulunya juga orang yg tidak ada ilmu selain ikut penjelasan ibu saya dan guru agama dan buku-buku tt hadist hari akhir… yg masih beranggapan tt isa akan turun di hari akhir…?! tentu tidak perlu mubahalah… hanya begitu teman sy menyuruh saya mengkoreksi ulang bacaan saya, buku RSI, sy gampang goyah juga…dan akhirnya mengecek websitenya harun yahya…tp InsyaAllah setelah sy baca ulang…malah jadi semakin percaya…dan berdoa kalau saya memang di jalan yg lurus…

sekian saja curahan pikiran sy yg muncul atas buku pa arman, bilasanya hal ini adalah pencerahan ke jalan yg benar…tentu Allah maha mengetahui dan akan membalas umatnya dengan setimpal di akhirat nanti…

wasslmkm

@bouedipoo~

Pengiriman Jejak Nabi Palsu

Februari 5, 2008
Assalamu’alaykum Wr. Wb.,
Alhamdulillah, akhirnya pagi ini (05/02/2008) semua kiriman pada para sahabat Iqra yang telah memesan dan mentransfer uang untuk buku “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq” berhasil dilakukan.
Jejak Nabi Palsu
Hanya saja, sesuai informasi yang saya terima dari pihak cargo, mungkin akan ada keterlambatan dalam proses penyampaiannya kepada rekan-rekan khususnya yang berdomisili di Jakarta akibat tumpukan barang dibandara Soekarno-Hatta pasca kejadian banjir besar beberapa waktu yang lalu.
Dengan demikian, saya harapkan kesabaran dari rekan-rekan semua.
Selanjutnya saya minta maaf juga bahwa khusus untuk buku Jejak Nabi Palsu, sementara ini saya belum dapat menerima dulu pesanan secara langsung sehubungan situasi dan kondisi serta keterbatasan waktu yang ada pada saya. Sehingga diharapkan agar jangan ada yang melakukan proses transfer uang dalam jumlah berapapun kerekening saya di Mandiri.
Buku Jejak Nabi Palsu sendiri seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bisa dibeli secara bebas diberbagai toko buku tanah air tanpa terkecuali.
Ini akan lebih memudahkan anda dalam proses mendapatkannya.
Disisi lain, untuk buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah pelurusan sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus” sayapun masih memberlakukan hal yang sama dengan Jejak Nabi Palsu. Artinya saya belum akan membuka proses pemesanan buku itu secara langsung kesaya sampai saat ini.
InsyaAllah, saya sudah melakukan pembicaraan dan kesepakatan dengan penerbit Restu Agung dalam hal pendistribusian kepara sahabat di Milis_Iqra maupun pasar Palembang dan Medan yang InsyaAllah akan saya ambil alih.
Sesudah buku tersebut ada pada saya, baru saya akan informasikan lagi secara terbuka dimilis_Iqra maupun diblog saya.
Atas perhatian anda semua saya ucapkan terimakasih.
Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,
Armansyah
www.penulis-indonesia.com/armansyah

Telah Terbit “Jejak Nabi Palsu”

Januari 15, 2008

Telah Terbit “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq”

Buku

Karya fenomenal kedua Armansyah, penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”

Daftar ISI :

Dibalik Topeng Nabi Palsu——vii

Bila Quran dan Hadis telah Ditinggalkan——-xi

Ucapan Terima Kasih——xv

Bab I.

Kontroversi Kenabian dan Kerasulan—–19

BAB II.

Dari Avatar Hingga Al-Mahdi—–63

BAB III.

Jejak Nabi “Palsu”—–99

Kata Penutup—–217

Daftar Pustaka—–253

Tentang Penulis—–257

Indeks—-259

Dari Sa’d bin Abi Waqqas r.a. Nabi SAW berkata kepada Ali r.a ([dalam perang tabuk): “Antara aku dengan engkau laksana hubungan antara Musa dan Harun, tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku.” – Riwayat Bukhari dan Muslim serta hadis yang senada juga dengan sanad dari Mush’ab bin Sa’ad

Nabi SAW bersabda: “Jika saja ada Nabi sesudah aku, tentulah dia adalah Umar Bin Khatab.” -Riwayat Tirmidzi

Pertanyaannya adalah ——-> Kenapa kita tidak melihat tokoh-tokoh terbaik Islam seperti Imam Ali bin Abu Thalib serta Khalifah Umar bin Khattab menyatakan diri mereka sebagai seorang Nabi jika memang pintu kenabian atau pintu kerasulan masih terbuka setelah wafatnya Nabi Muhammad ?

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kabilah-kabilah dari umatku mengikuti orang-orang Musyrik dan hingga mereka menyembah berhala-hala dari batu. Sesungguhnya, di tengah-tengah umatku akan muncul para pembohong besar, dan semuanya mengaku-ngaku sebagai nabi; padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.” -Riwayat at-Tirmidzi dengan hadis-hadis senada diriwayatkan juga oleh Abu Daud dan Ahmad

Bila memang makna Khotaman Nabiyyin tidak seperti yang dipahami oleh Rasulullah SAW dan bila memang makna kewahyuan dalam korelasi kenabian tetap ada sampai kapanpun, kenapa kita tidak menemui pengakuan tersebut dari kalangan para keluarga Nabi yang suci (ahli baitnya) ? atau dari para sahabat terdekatnya ? atau dari kalangan Tabi’ dan Tabi’in ? bukankah seharusnya bila memang pintu kenabian itu tetap terbuka, maka Umar dan Ali-lah orang pertama yang patut menyandang pangkat tersebut sesuai sabda dari Nabi SAW sendiri ?

Jika memang katakanlah Mirza Ghulam Ahmad, Ahmad Musaddiq, Ahmad Mukti merupakan sosok nabi-nabi baru dijaman modern ini, maka dimana nabi-nabi pada periode sebelum ini ? dimana para nabi baru setelah Muhammad pada waktu penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia ? atau pada waktu Order Baru di Indonesia berkuasa ? atau pada waktu perang salib meletus ?

Benarkah Isa al-Masih masih hidup sampai hari ini ? ataukah Isa al-Masih justru sudah wafat dan hadis-hadis yang bercerita mengenainya bersifat alegoris dan mengandung pengertian persamaan penyifatan orang yang akan datang diakhir jaman dengan sifat-sifat Isa al-Masih ?

Syaikh al-Bani termasuk satu diantara sejumlah ulama Ahlussunnah yang menolak memahami hadis-hadis seputar turunnya Nabi ‘Isa al-Masih dan kedatangan al-Masih Dajjal secara metaforis, beliau dalam salah satu tulisannya mengecam orang-orang yang melakukannya sebagai orang yang sesat dan menyamakan posisi mereka kedalam kelompok Muktazilah dan musyabbihah yang mana pada masanya kelompok tersebut menjunjung tinggi akal dan berbagai bentuk penyifatan didalam memahami agama Islam, sebaliknya Penulis buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”, Armansyah, dengan didukung oleh banyak data-data penunjang (literatur) baik dari Islam atau diluar Islam menyatakan bahwa Nabi Isa al-Masih sudah wafat dan tidak akan datang lagi diakhir jaman, ini dituangkannya secara detil dan ilmiah pada bukunya yang berjudul “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” serta dilanjutkan secara lebih komprehensif pada buku “Jejak Nabi Palsu”.

Apa makna Syubbihalahum alias penyamaran Isa al-Masih dalam ayat 157 surah an-Nisaa dikitab suci al-Qur’an ?

Apa pula hubungannya dengan keberadaan para Mujaddid ?

“Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.” – Riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah

Tugas mujaddid bukan merubah apalagi membatalkan hukum¬hukum dan ketetapan al-Qur’an. Mujaddid adalah intelektual muslim yang akan memberikan penyegaran pemahaman atas sejumlah ayat¬ayat al-Qur’an secara lebih baik dan lebih aktual dengan mengacu pada peradaban yang ada disetiap jamannya. Jumlah mujaddid yang Allah tampilkan dalam setiap jaman bisa jadi hanya satu, namun bisa pula berbilang demikian menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih¬bersihnya. -Qs. 33 al-Ahzab :33

Apa kaitan ayat ini dengan kedatangan Imam al-Mahdi ?

Siapa sesungguhnya Imam al-Mahdi tersebut ? benarkah beliau Imam ke-12 sebagaimana dipercayai oleh kaum Syi’ah ? benarkah Imam Mahdi saat ini masih ghaib dalam artian sudah ada tapi tidak ditampakkan ? ataukah beliau justru belum dilahirkan ?

Dapatkan jawabnya hanya dibuku “Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq”

Kata Pengantar oleh Bapak Abu Deedat Syihab MH, Ketua Umum Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA) dan Saudara Aris Hardinanto, Pengamat Perbandingan Agama Semitik

Endorsmen supported by Ahmad Dani P (team Moderator Milis_Iqra), Mohammad S. Ghasali (Swaramuslim), M.Nidzhom Hidayatullah (Sekretaris MUI Malang)

Karya kedua : Armansyah
Penerbit : Hikmah (PT. Mizan Publika) 2007
Tebal : 253 halaman

Harga : Rp. 44.000,-
Pemesanan langsung kepenulis plus ongkos kirim*

Buku “Jejak Nabi Palsu” sudah bisa diperoleh disemua toko buku diseluruh Indonesia tanpa terkecuali.

Buku “Jejak Nabi Palsu” bisa jadi tidak akan lengkap bila anda tidak membaca buku sebelumnya “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih”, jadi, buruan koleksi keduanya.
Ingat, “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” tidak ada di toko buku Gramedia !

Dapatkan buku ini ditoko-toko buku yang disupported oleh Restu Agung (lihat daftarnya pada http://milis_iqra.googlegroups.com/web/TOKO_RESTU_AGUNG.pdf ) atau toko-toko buku Islam seperti Gunung Agung dan sebagainya atau pesan sekarang juga dengan penulis.

Benar-benar 2 karya yang InsyaAllah mencerahkan dan memberi pemahaman berbeda dari buku-buku yang pernah anda baca sebelum ini !

Kepada anak-anakku, Sultan Daffa dan Masayu Haura, kalian adalah pemicu bangkitnya tanggung jawab untuk merampungkan kedua naskah buku ini.
Semoga apa yang sudah Papa lakukan ini bisa ikut menjadi salah satu bentuk usaha pencerahan serta penyelamat kehidupan beragama kalian kelak bila sudah tumbuh dewasa, hingga kalian tidak mudah ditipu oleh kemaksiatan jaman serta fatamorgana Iblis dengan dalih Messianisme, al-Mahdi, kenabian atau kerasulan.

Papa tidak mungkin akan selalu ada menyertai jalan-jalan panjang kehidupan kalian, tetapi Papa juga tidak mau kalian celaka dan menjadi kaum penantang Tuhan. Berpegang teguhlah kalian terhadap syahadat ketauhidan Allah dan kerasulan Muhammad SAW, sebab dari sini keselamatan akan terpancarkan.

Ingat Nak, “Tuhanmu adalah Allah, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, Nabi terakhirmu adalah Muhammad bin Abdullah, Kitab sucimu adalah al-Qur’an” !

http://armansyahskom.wordpress.com
http://www.penulis-indonesia.com/armansyah/
Tanamkan ini dijiwa dan akal kalian !

Penulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.